Rabu, 06 Januari 2016

Di Institute for Counter-Terrorism ( ICT) di Pusat Interdisipliner (IDC), Herzliya, mengatakan kepada Post."Konflik Iran-Saudi Mendidih".


Eksekusi Arab Saudi dari ulama Syiah Nimr al-Nimr tampaknya akan meningkatkan kekerasan sektarian Syiah Sunni- di Timur Tengah, para ahli mengatakan kepada The Jerusalem Post pada hari Senin.
Negara Teluk Sunni, dengan pengecualian independent- berpikiran Oman, diharapkan publik kembali Saudi, sementara Syiah yang didominasi Irak dan sekutu Suriah kembali Iran.
"Konflik Syiah Sunni mendidih," Eliezer "Geizi" Tsafrir, mantan penasihat urusan Arab untuk perdana menteri senior dan Mossad dan Shin Bet (Badan Keamanan Israel) resmi, yang saat ini menjadi fellow di Institute for Counter-Terrorism ( ICT) di Pusat Interdisipliner (IDC), Herzliya, mengatakan kepada Post.
"Didukung oleh petro-dolar dan agresivitas" Iran revolusioner mendukung sekutunya di seluruh wilayah dan "dunia Sunni adalah sangat takut ancaman Iran, mungkin bermimpi bahwa AS atau Israel akan melakukan pekerjaan," kata Tsafrir.
Tsafrir menunjuk bagaimana ketegangan sudah marak sejak Saudi, telah memiliki cukup subversi Iran dekat perbatasan, meluncurkan perang di Yaman tahun lalu untuk membela kepentingan terhadap Iranian- didukung Huthi mengambil alih negeri.
Tsafrir menambahkan bahwa keputusan oleh Sudan, sampai saat ini di orbit Iran pengaruh, untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Islam, mungkin merupakan tanda yang akan datang. Dia mengatakan manuver Khartoum menunjukkan seberapa jauh konflik antara faksi-faksi Sunni dan Syiah telah meningkat.
"Kita bisa berharap langkah lebih lanjut," kata Tsafrir.
Prof. Joshua Teitelbaum, seorang ahli Arab Saudi dan Timur Tengah yang modern, mengatakan kepada Post bahwa sejak Raja Salman mengambil lebih dari setahun yang lalu, "ia dan penasihatnya telah mendorong untuk kebijakan luar negeri lebih berotot untuk menegaskan tanggung jawab Saudi bagi umat Islam Sunni. "
Selain itu, Teitelbuam, seorang peneliti senior di Bar-Ilan University Mulailah-Sadat Pusat Studi Strategis, melihat aksi Saudi sebagai respon terhadap penghematan Amerika di wilayah tersebut.
"Saudi melihatnya sebagai menciptakan vakum bahwa kekuatan Syiah pro-Iran mengisi," kata Teitelbaum.
Terbaru bergerak Saudi anti-Iran juga dapat dilihat sebagai langkah oleh menteri muda baru pertahanan Arab, Sheikh Mohammed bin Salman, anak raja, sebagai berusaha untuk membuktikan keberaniannya, kata Teitelbaum.
Meir Javendafar, dosen politik Iran di IDC mengatakan bahwa kedua belah pihak "akan secara signifikan meningkatkan dukungan untuk kelompok proksi di Suriah, Yaman, Irak, dan bahkan Lebanon."
"Ini akan membuat pekerjaan [Sekretaris Negara] John Kerry menemukan solusi damai di Suriah jauh lebih sulit," kata Javendafar.
Ketika ditanya apakah ia membayangkan konflik militer langsung antara Iran dan Arab Saudi, Jevadanfar menjawab bahwa untuk saat konfrontasi langsung tidak mungkin karena mereka "lebih memilih berjuang perang proksi terhadap satu sama lain. Dan ini kemungkinan akan berlanjut. "
Dr Michael Barak, seorang peneliti senior Timur Tengah pada ICT dan dosen di sekolah Lauder IDC diplomasi dan strategi pemerintah, mengatakan bahwa "Arab Saudi melintasi garis merah Iran dengan menjalankan Nimr, yang dipermalukan Iran."
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran memperingatkan Arab Saudi untuk tidak mengeksekusi ulama Syiah, tetapi Saudi bertekad untuk bertindak melawan terorisme Syiah, kata Barak.
"Pengerjaan Nimr dan tiga Shi'tes lainnya adalah deklarasi perang terhadap Iran," kata Barak. Dia memperkirakan Iran akan menanggapi "dalam waktu dekat, mungkin dengan membunuh seorang tokoh terkemuka Saudi seperti duta."
Barak mengatakan pemerintah Iran juga telah menangkap ulama dari minoritas Sunni dan bisa mengeksekusi mereka di balas dendam. Kemungkinan lain, kata dia, adalah bahwa Iran dapat menggunakan proxy di Yaman, Houthi, untuk memulai serangan lebih lanjut tentang Arab Saudi.

Selasa, 05 Januari 2016

PBB Turun Tangan Redam Ketegangan Iran-Arab Saudi. Ketegangan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran telah memicu kekhawatiran global,


NEW YORK, SELASA — Ketegangan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran telah memicu kekhawatiran global, terutama terkait dengan semua upaya damai yang tengah digarap untuk menyelesaikan berbagai konflik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara, seperti Indonesia, Amerika Serikat, dan Rusia, mendesak agar Iran dan Arab Saudi mengedepankan upaya damai, bahkan Amerika Serikat dan Rusia menawarkan diri menjadi penengah atas ketegangan itu.
Polisi antihuru-hara  berpatroli di jalan-jalan di Desa Sanabis, sebelah barat Manama, Bahrain, menjaga pengunjuk rasa yang memprotes eksekusi terhadap ulama Syiah,  Nimr al-Nimr, oleh Pemerintah Arab Saudi, Senin (4/1).
REUTERS/HAMAD I MOHAMMEDPolisi antihuru-hara berpatroli di jalan-jalan di Desa Sanabis, sebelah barat Manama, Bahrain, menjaga pengunjuk rasa yang memprotes eksekusi terhadap ulama Syiah, Nimr al-Nimr, oleh Pemerintah Arab Saudi, Senin (4/1).
Di sisi lain, krisis itu telah memicu kekhawatiran baru tentang meningkatnya kekerasan sektarian di Timur Tengah. Tak heran jika kemudian PBB segera turun tangan menyikapi krisis tersebut. Prihatin dengan kondisi di Iran dan Arab Saudi, anggota Dewan Keamanan PBB pun mendesak agar semua pihak mengedepankan dialog dan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan di wilayah itu.
Meskipun demikian, 15 anggota Dewan Keamanan PBB, Senin (4/1), mengecam serangan terhadap Kedutaan Arab Saudi di Teheran yang dilakukan oleh para pemuda Iran yang marah akibat eksekusi mati seorang ulama terkemuka di Arab Saudi, Sheikh Nimr al-Nimr, akhir pekan lalu.
Mengecam
"Para anggota Dewan Keamanan mengecam serangan terhadap Kedutaan Arab Saudi di Teheran dan Konsulat Jenderal di Masyhad di Iran, yang mengakibatkan gangguan ke tempat diplomatik dan konsuler serta menyebabkan kerusakan serius," kata pernyataan Dewan. Mereka pun meminta Iran untuk melindungi properti dan personel diplomatik dan konsuler serta menghormati sepenuhnya kewajiban internasional mereka terkait hal itu.
Bahkan, untuk meredam ketegangan di antara kedua negara PBB, lembaga itu segara mengutus perwakilan khusus mereka di Suriah Staffan de Mistura ke Riyadh dan akhir pekan ini ke Teheran. PBB tampaknya khawatir, ketegangan antara Iran dan Arab Saudi akan berpotensi mengganggu pembicaraan damai untuk mengakhiri konflik di Suriah dan Yaman.
Seorang polisi  antihuru-hara Iran berdiri menjaga unjuk rasa menentang eksekusi terhadap ulama Syiah,  Sheikh Nimr al-Nimr, di luar gedung Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran, Minggu (3/1).
REUTERS/TIMASeorang polisi antihuru-hara Iran berdiri menjaga unjuk rasa menentang eksekusi terhadap ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr, di luar gedung Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran, Minggu (3/1).
Kekhawatiran itu beralasan karena Iran dan Arab Saudi turut memainkan peran penting untuk mencari solusi damai bagi kedua negara yang tengah terantai oleh perang saudara tersebut. De Mistura akan melakukan sejumlah pembicaraan dan mencari jaminan bahwa semua usaha yang telah dilakukan untuk menggelar proses perdamaian di Suriah dan Yaman tidak sia-sia.
De Mistura memang membutuhkan dan mengandalkan dukungan banyak pihak agar pembicaraan damai antara pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad dan oposisi Suriah yang bakal digelar di Geneva pada 25 Januari berjalan lancar. Pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi-Iran menyusul serangan terhadap Kedutaan Arab Saudi di Teheran dinilai dapat mengganggu proses itu. Apalagi, sejumlah negara lain, seperti Bahrain dan Sudan, juga turut memutuskan hubungan diplomatik mereka dengan Iran.
Konflik baru
Jika situasi itu dibiarkan berlarut, pertarungan kubu pendukung Iran dan kubu pendukung Arab Saudi sangat mungkin menggelorakan konflik baru di kawasan yang saat ini tengah dirundung banyak konflik. Sebagaimana diketahui, Teheran adalah sekutu terkuat Presiden Assad, sementara Riyadh adalah pendukung milisi melawan Damaskus. Di Yaman, koalisi Arab yang dipimpin Saudi mengampanyekan serangan udara terhadap pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Untuk meredam meluasnya ketegangan itu, selain mengirim utusan khusus PBB untuk Suriah ke Riyadh, Sekjen PBB Ban Ki-moon juga menghubungi Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Iran. PBB bergerak cepat untuk mendesak mereka agar Arab Saudi dan Iran menghindari tindakan-tindakan yang dapat memperburuk situasi.
 
Situasi di Timur Tengah kembali memanas pasca-Arab Saudi mengeksekusi mati ulama syiah ternama. Dua masjid Sunni di Hilla, Irak, diserang. Satu orang dilaporkan tewas.
Dalam percakapannya dengan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir, Ban menyatakan kecewa atas eksekusi mati al-Nimr. Namun, ia juga menyampaikan, banyak serangan oleh sejumlah pemuda Iran atas Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran adalah tindakan yang menyedihkan. Meskipun demikian, kepada Jubeir, Ban mengatakan, keputusan Saudi untuk memutuskan hubungan dengan Teheran adalah tindakan yang sangat mengkhawatirkan. Sementara itu, kepada Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Ban mendesaknya untuk melindungi fasilitas diplomatik setelah serangan terhadap Kedutaan Saudi.
Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengatakan ketegangan antara Riyadh dan Teheran memiliki konsekuensi sangat serius bagi kawasan. Menurut dia, Iran dan Arab Saudi memiliki peran penting dalam mendorong upaya-upaya diplomatik untuk mengakhiri perang di Suriah dan membangun penyelesaian politik di Yaman.
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdallah al-Mouallimi mengatakan, pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran seharusnya tidak berpengaruh pada upaya damai itu. "Kami akan terus bekerja keras untuk mendukung upaya perdamaian di Suriah dan Yaman," kata Abdallah.
Ia mengatakan, Arab Saudi berjanji untuk menghadiri babak berikut dari proses pembicaraan damai Suriah. Namun, ia juga meminta Iran turut memainkan peran diplomatik untuk mengakhiri perang di Suriah. Selama ini, menurut Adallah, Teheran belum banyak memainkan peran dalam mendukung upaya damai itu.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk PBB Gholamali Khoshroo menyatakan penyesalan atas serangan terhadap Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran. Dalam suratnya kepada Ban Ki-moon, ia menyebutkan Iran akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di masa depan.

Rabu, 30 Desember 2015

Review “A Note From Tehran”. Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru.

Review “A Note From Tehran”

New Release 2013
Prahara Suriah
New Release (2013)
"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Catatan buat penstudi HI: ini bisa masuk ke pembahasan tentang ‘diplomasi budaya’

Tepat setahun yang lalu, saya berada di Tehran. Sebelumnya, sejak 1999-2007 saya pernah tinggal di Iran. Awalnya untuk kuliah S2 karena saya mendapat beasiswa di Tehran University, jurusan Hukum Islam. Baru kuliah satu semester, saya mendapati bahwa memang bidang tersebut sama sekali tidak saya minati. Seiring dengan itu, saya kerepotan mengurus bayi (kalau pakai istilah seorang pakar parenting, waktu itu saya mengalami sindrom gajatu ‘gagap jadi ortu’). Kuliah pun saya tinggalkan dan saya fokus mengurus anak. Ketika anak saya telah usia dua tahun, saya bekerja sebagai jurnalis di IRIB, dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, Inggris, dan Persia saya. Lumayan, bisa menabung Dollar. Seiring dengan semua itu pula, saya aktif menjadi blogger dan mencatat warna-warni kehidupan saya selama di Iran di blog saya. Catatan itu akhirnya menjadi buku dengan judul Pelangi di Persia (lalu terbit ulang dengan judul Journey to Iran).
Kembali lagi ke Tehran setelah lima tahun berlalu, tentu saja memberi banyak kesan baru. Apalagi, bila dulu status saya TKW (tenaga kerja wanita, meski agak mentereng karena kerjanya di kantor), kali ini saya datang sebagai intelektual muslimah yang diundang hadir dalam Konferensi “Perempuan dan Kebangkitan Islam”. Saya bersama 16 perempuan Indonesia lainnya (intelektual, jurnalis, aktivis) lolos seleksi setelah mengirimkan paper yang terkait dengan tema kebangkitan Islam. Kali ini, saya (kami) dilayani dengan fasilitas VIP dan menginap di hotel bintang lima, dikawal ketat ala tamu negara, dan diajak jalan-jalan ke berbagai kota dengan pesawat carteran.
Memang judulnya adalah Konferensi Islam, tetapi, dari sudut pandang HI, bagi saya ini adalah sebuah investasi besar di bidang diplomasi budaya, yang dilakukan Iran. Bayangkan saja, ada 1000 perempuan dari 85 negara yang diundang hadir, sebagian besar dari mereka bermahzab Sunni, selain bertemu langsung dengan intelektual perempuan Iran, menyaksikan langsung kiprah perempuan Iran, juga diajak jalan-jalan ke berbagai kota di Iran. Pengalaman empiris seperti itu tak pelak akan menimbulkan semacam ‘prejudice breaking’ (memecah prasangka) bagi mereka yang selama ini hanya ‘mendengar’ tentang Iran (dan yang didengar biasanya lebih banyak yang negatifnya).
Mungkin ada yang mengatakan, tentu saja yang ‘keliatan’ oleh peserta adalah yang bagus-bagusnya saja. Namun, sebagian dari kami para peserta Indonesia sebenarnya juga melihat yang buruk-buruknya, misalnya, koordinasi panitia yang keliatan kurang rapi, atau, acara konferensi yang terlalu Arab (yang diutamakan untuk bicara di mimbar orang-orang dari negara Arab melulu, untung akhirnya setelah memaksa, delegasi Indonesia bisa bicara di mimbar dan mendapat tepukan meriah karena presentasi yang sangat bagus, jauh beda dengan delegasi Arab yang kebanyakan isinya membosankan). Namun, cerita-cerita soal Quran yang beda, sholatnya menyembah Ali bukan Allah, perempuan yang ditindas, orang Sunni yang dibunuhi, dll, tidak kami temukan.
Perempuan Indonesia, di manapun, memang hobi belanja. Sebenarnya kami dilarang bepergian sendiri tanpa dikawal. Karena belanja itu penting buat ibu-ibu, akhirnya panitia membentuk beberapa kelompok shopping. Beberapa ibu Indonesia, termasuk saya, shopping dengan dikawal dua bodyguard ganteng yang tidak sabaran (pengennya belanja cepet-cepet dan segera pulang ke hotel).

Tentu saja, itu tidak cukup buat kami. Akhirnya, saya mengantar beberapa teman Indonesia ke pasar Tajrish (pasar terdekat dari hotel, dan dulu selama saya di Tehran saya malah belum pernah belanja ke sana) secara sembunyi-sembunyi, tanpa minta izin panitia. Kami naik bis umum. Ngelencer masuk ke gang-gang di pasar. Muter-muter sampai pegel. Dan inilah faktor penting yang membuat kami bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat Tehran, yang ternyata memang biasa-biasa saja, sama seperti manusia di belahan dunia lain. Bukan masyarakat garis keras, puritan, bengis, dan supersesat seperti yang digambarkan media. Bahkan kami sempat bertemu ibu yang sangat ramah menyapa kami dalam bahasa Inggris, dan langsung bersedia menjadi guide dadakan saat kami tersesat di pasar itu. Dia juga membantu kami menawar barang.
Di sesi lain belanja (maklum, emang belanjanya berkali-kali kok:D), kami bertemu dengan sebuah toko kecil, nyempil di sebuah gang. Toko itu menjual Quran, kitab-kitab doa, dan parfum. Seorang ibu langsung terpikir membeli Quran kecil untuk oleh-oleh. Ya, apalagi yang lebih dahsyat daripada Quran cetakan Iran yang legendaris itu (dikatain ‘beda’ dari Quran kaum Sunni)? Si penjual, anak muda yang ganteng (kalau emak-emak kayak saya bilang ganteng, itu artinya memang bener-bener ganteng:D), dengan tak peduli membiarkan kami memilih-milih Quran. Sama sekali kami tidak ditanya, “Mau Quran Sunni apa Syiah?”. Saat saya tanya, ‘harganya berapa?’, dia jawab ‘4000 toman, tapi ini bukan harga ya, ini hadiah’. Ya, memang konvensi di sana, Quran itu ga boleh dijualbelikan, jadi transaksinya harus berjudul ‘memberi hadiah’.
Teman saya itu, seorang doktor, dosen, dan aktivis PERSIS (Sunni tulen dong ya) memborong sekitar 8 Quran. Eeeh.. besoknya,  ibu ini minta dianterin lagi belanja, alasannya oleh-olehnya masih kurang. Beliau ini sangat saya hormati, tapi tetep saya nggak mau mengantarnya belanja, karena menurut saya belanjaannya sudah terlalu banyak, pasti sudah over weight. Eh, beliau malah nekad ngelencer sendiri (bener-bener sendirian!) ke pasar lagi, naik bis. Padahal, tidak bisa bahasa Persia. Ketika pulang ke hotel, dengan penuh semangat beliau cerita, berhasil menemukan toko Quran yang kemarin dan membeli setumpuk Quran lagi (di samping tentu saja, seabrek suvenir lainnya). Karena beliau masih bingung menghitung uang Iran (yang memang membingungkan karena ada istilah Toman, ada Riyal), dia membuka begitu saja dompetnya dan menyuruh si penjual Quran mengambil sendiri uangnya. Setelah saya hitung, ternyata harga Quran itu malah lebih murah dari kemarin. Ternyata kali ini yang jualan bapaknya si ganteng. Wah.
Trus, jadi Qurannya beda apa enggak? Ya enggak lah. Bukankah Allah sudah berjanji menjaga kemurnian Al Quran? Masa sebuah negara bisa memalsukan Quran, dan bisa ‘melawan’ janji Allah? Secara logika emang ga masuk sih. Tapi sekarang ada pengalaman empiris yang membuktikan bahwa Quran Iran sama saja dengan Quran Arab Saudi.
Kejadian menarik lainnya, saat kami tur ke kota Qom. Saya dan beberapa orang bergabung dalam satu kelompok, sebagian orang Indonesia, sebagian India. Seorang profesor dari India sempat ‘hilang’ dan guide kami, Zahra, sangat panik. Saya agak kesal pada Zahra. Duh, profesor gitu loh, nggak perlu dikhawatirkan. Kalaupun nyasar dia bisa telpon ke panitia (semua peserta diberi kartu telepon dengan pulsa sangat banyak, saya aja sampai puas nelpon berkali-kali ke Indonesia, gratis). Akhirnya emang ibu satu itu bisa ketemu lagi.
Nah, ketika kami diajak berkunjung ke kompleks makam Sayyidah Ma’shumah (seorang ‘wali’ keturunan Nabi) yang dibangun megah dan berkubah emas, Zahra mengajak kami berziarah. Dia (tentu saja, Syiah) heran sekali saat tahu bahwa ada anggota rombongan Indonesia yang belum pernah ziarah (kebetulan di antara kami tidak ada yang dari NU). Saya menahan tawa geli melihat ekspresi teman-teman setelah didorong-dorong Zahra untuk mendekati makam. Ada yang nervous, ada yang bingung, ada juga yang dengan bijaksana berkomentar, “Yah… insya Allah kalau ada ribuan orang berdoa di tempat yang sama, energi positifnya pasti besar..” (makam itu memang penuh sesak oleh pengunjung). Sementara saya sendiri, meski berasal dari keluarga yang ‘Muhammadiyah banget’ (bahkan menziarahi makam kakek-nenek saya pun gak pernah, karena tidak ada tradisi itu), saya menikah dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang “NU banget”. Jadi, tiap lebaran, pasti kami berziarah ke makam leluhur dan kalau baca doa di pengajian keluarga, semua nama leluhur disebut-sebut.
Tapi pengalaman ini tidak ‘dimasukkan ke hati’. Saya lihat, tetap saja, yang lebih kuat adalah ‘diplomasi budaya’, melihat secara empiris budaya orang lain. Dan memakluminya. Titik. Buktinya, segera setelah itu, kami semua kembali ke selera asal: narsis berfoto-foto di kompleks makam sambil ketawa-ketiwi. Bahkan Zahra pun minta difotoin. Saat itu tiba-tiba angin bertiup kencang dan chadur (kain lebar yang menutupi tubuh, bukan cadar) Zahra tersingkap. Terlihat dia mengenakan setelan tunik dan celana panjang dengan model modern. Spontan kami memuji…aih cantiknyaaa…. Kalau kami aja yang perempuan spontan memuji kecantikan Zahra saat itu, bisa dibayangkan cantiknya kayak apa :D
Ada banyak lagi kesan-kesan, yang pastinya berbeda-beda bagi tiap peserta konferensi. Apalagi, latar belakang kami sangat beragam, ada yang dosen filologi, dosen sejarah, dosen HI, jurnalis, dokter, dll. Kami pun lalu berinisiatif menuliskan kesan-kesan itu, tidak melulu tentang Iran, tapi lebih pada refleksi yang kami dapatkan dari kunjungan itu, dikaitkan dengan kebangkitan Islam dan peran perempuan Indonesia. Dan lahirlah buku ini, A Note from Tehran. Ada banyak yang bisa dipelajari dari sini. Seperti ditulis salah seorang penulis di buku ini,  
“Memang banyak hal yang bisa dipelajari dari Iran, namun bukan berarti harus meniru apa pun yang ada di sana. Kita menyadari, ada perbedaan antara kita dan mereka, terutama mungkin masalah mazhab. Namun, kupikir, dalam hal ini, paham atau aliran tak perlu kita permasalahkan. Biarlah mereka dengan pemahaman mereka, dan kita dengan pemahaman kita. Tapi, sebagaimana Rasulullah saw menyuruh kita untuk belajar dari banyak bangsa, tentu tak salah bila kita mempelajari (dan berusaha mengadopsi) semangat kebangkitan dan kemandirian mereka, meniru sifat ramah mereka, dan mencontoh penegakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara.  Bukankah ini kunci kebangkitan Islam: berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam?”
Endorsment untuk buku ini:
Berangkat dari berbagai refleksi para penulis selama berkunjung ke Iran, tulisan di buku ini ini memberikan wawasan tentang pentingnya peran perempuan dalam kebangkitan umat. Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang mencari referensi terkait peran perempuan Islam di ruang public. Lewat buku ini pula, kita dapat mengambil berbagai inspirasi dari para pahlwan perempuan Indonesia, antara lain Rahmah el Yunusiah, Kartini, dan Rohana Kudus, serta kepedulian para perempuan terhadap tatanan politik global. Selamat membaca!
–Anies Baswedan, Ph.D, Rektor Universita Paramadina
Buku ini memberi inspirasi bagi kaum perempuan bahwa mereka dapat berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Membaca buku ini, kita tersadarkan bahwa hidup yang seimbang antara kepentingan pribadi, kewajiban sebagai perempuan, dan berbagi dengan sesama bukanlah hal yang tidak mungkin; bahkan justru melimpahkan banyak berkah. Apapun profesinya, perempuan bisa membuat perubahan ke arah kebaikan, asal disertai dengan niat kuat dalam menjalankan amanah dan konsisten memberikan yang terbaik pada jalur yang ditempuhnya.
–Adiska Fardani, COO NoLimit Indonesia, Peraih Kartini Next Generation Award 2013
(NB: cerita yang saya tulis di note ini tidak dimuat di buku)
Buku bisa pesan online ke arif.maulawi@gmail.com. Harga 36rb.
front

Tampil Garang, Honda Jadi Idola Di EICMA. Honda pamer deretan CB500 Series terbarunya. Desain tangki bensin kini lebih besar


Sayang banget deh Brosis kemarin nggak bisa dateng ke pameran EICMA di Milan di Italia. Apalagi saat itu Honda pamer deretan CB500 Series terbarunya. Sebenarnya model ini ada tiga varian, CB500F, CBR500R, dan CB500X. Dan semuanya sukes bikin pengunjung kesengsem mantengin sosoknya.
Dibanding model serupa yang dirilis tahun ini, ketiganya tampil beda banget. Makin keren dan cakep. Tapi perubahan paling drastis ada di Honda CB500F. Motor sport naked ini tampil dengan garis bodi tegas dan agresif seakan-akan nantangin nyali Brosis buat ngebut bareng. Buat efisiensi bobot, pipa gas buang jadi lebih pendek tapi dengan suara yang lebih ”nendang.” Desain tangki bensin kini lebih besar, pas banget buat diajak riding jarak jauh. Mau touring dari Jakarta ke Bali kayaknya nggak perlu lagi bingung dikit-dikit nyari SPBU deh. Make over lainnya yaitu tuas rem depan yang bisa diatur, footstep penumpang dari material aluminum die-cast, dan transmisi yang lebih baik serta perpindahan gigi yang halus. Tapi yang unik adalah kunci kontak yang hadir dengan desain baru. Honda menyebutnya ”wave-style” ignition karena bentuknya yang memang bergelombang. Buat dapur pacu, Honda ngandelin mesin DOHC berkapasitas 471cc yang bisa dipaksa memuntahkan 35 tenaga kuda. Rencananya, si ganteng ini bakal mulai dijual Februari mendatang buat pasar Amerika Serikat dengan pilihan warna Matte Black Metallic/S

Said Aqil Siroj : Boleh Ucapkan Selamat Natal, Asal...Namun, Said mengingatkan pengucapan Selamat Natal adalah untuk kelahiran seorang nabi. Bukan Anak Allah.


Said Aqil Siroj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Jakarta (SI Online) - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, mengatakan umat Islam khususnya Nahdliyin boleh mengucapkan Selamat Hari Natal kepada umat Kristen yang sebentar lagi akan merayakannya.

Namun, Said mengingatkan pengucapan Selamat Natal adalah untuk kelahiran seorang nabi. Bukan Anak Allah.

"Bisa. Tapi bukan karena lahirnya anak Tuhan. Tapi mengucapkan Natal atas dilahirkannya Nabi Isa. Bukan putera Allah," kata Said di kantornya, Jakarta Selasa (17/12/2013).

MUI Melarang Memberikan Ucapan Selamat Natal

Berbeda dengan pernyataan Said Aqil Siroj, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tegas menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun 1981.

"Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka," kata Ketua MUI, KH. Amidan, Senin (24/12/2012)

Ketua MUI lainnya, KH. Ma'ruf Amin juga pernah menegaskan agar umat muslim agar tidak memberikan ucapan Selamat Hari Raya Natal kepada umat kristiani apalagi mengikuti natalan bersama, karena hukumnya haram dan berdosa bagi umat Islam mengikuti perayaan Natalan bersama umat Kristen. Sebab dalam acara Natalan bersama itu mengandung unsur ibadah Kristiani.

“Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal,  jangan sampai diucapkan oleh umat Islam Adapun yang diperbolehkan ucapan Selamat Tahun Baru 2013,” Ujar Kyai Ma'ruf di Jakarta (19/12/2013).

Ia menegaskan, meski tidak mengucapkan selamat, umat Islam tetap harus menghormati perayaan Natal. Tapi tetap di dalam batasan-batasan ajaran agama Islam

“Tentu kita harus jaga toleransi tapi tentu ada fatwa MUI melarang untuk mengikuti ritualnya, karena itu ibadah,” ujar pimpinan tertinggi ulama se-Indonesia itu.

Said Aqil Siroj : Boleh Ucapkan Selamat Natal, Asal...Namun, Said mengingatkan pengucapan Selamat Natal adalah untuk kelahiran seorang nabi. Bukan Anak Allah.

Said Aqil Siroj : Boleh Ucapkan Selamat Natal, Asal...

Said Aqil Siroj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Jakarta (SI Online) - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, mengatakan umat Islam khususnya Nahdliyin boleh mengucapkan Selamat Hari Natal kepada umat Kristen yang sebentar lagi akan merayakannya.

Namun, Said mengingatkan pengucapan Selamat Natal adalah untuk kelahiran seorang nabi. Bukan Anak Allah.

"Bisa. Tapi bukan karena lahirnya anak Tuhan. Tapi mengucapkan Natal atas dilahirkannya Nabi Isa. Bukan putera Allah," kata Said di kantornya, Jakarta Selasa (17/12/2013).

MUI Melarang Memberikan Ucapan Selamat Natal

Berbeda dengan pernyataan Said Aqil Siroj, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tegas menyatakan umat Muslim di Indonesia tidak perlu mengucapkan selamat Natal untuk umat Nasrani. Imbauan itu didasarkan pada fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun 1981.

"Itu mengacu pada fatwa MUI tahun 1981, saat ketuanya Buya Hamka," kata Ketua MUI, KH. Amidan, Senin (24/12/2012)

Ketua MUI lainnya, KH. Ma'ruf Amin juga pernah menegaskan agar umat muslim agar tidak memberikan ucapan Selamat Hari Raya Natal kepada umat kristiani apalagi mengikuti natalan bersama, karena hukumnya haram dan berdosa bagi umat Islam mengikuti perayaan Natalan bersama umat Kristen. Sebab dalam acara Natalan bersama itu mengandung unsur ibadah Kristiani.

“Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal,  jangan sampai diucapkan oleh umat Islam Adapun yang diperbolehkan ucapan Selamat Tahun Baru 2013,” Ujar Kyai Ma'ruf di Jakarta (19/12/2013).

Ia menegaskan, meski tidak mengucapkan selamat, umat Islam tetap harus menghormati perayaan Natal. Tapi tetap di dalam batasan-batasan ajaran agama Islam

“Tentu kita harus jaga toleransi tapi tentu ada fatwa MUI melarang untuk mengikuti ritualnya, karena itu ibadah,” ujar pimpinan tertinggi ulama se-Indonesia itu.

MENELISIK NOWRUZ, TAHUN BARU PERSIA.Lalu, sejak kapan masyarakat Persia memiliki penanggalan sendiri? Kalau dilacak secara historis,


Jam berdentang, tepat pukul dua dini hari. Langit Teheran yang seharian diguyur hujan, kini bertaburan kembang api dan petasan. Dari balik jendela kamar, terlihat lampu-lampu apartemen di seberang jalan menyala terang. Saya membayangkan, keluarga Iran yang sedang duduk mengelilingi meja berhias aneka kue, menyambut datangnya nowruz atau tahun baru Persia. Beberapa tahun lalu, saya pernah diundang menghadiri perayaan nowruz. Waktu itu, pergantian tahun terjadi pada sore hari. Pergantian tahun baru Iran dinamis. Tahun lalu, sekitar jam 8 malam dan tahun ini semakin bergeser hingga dini hari.

Satu Farvardin, bertepatan dengan 21 Maret, adalah penanggalan tahun baru Iran. Di Indonesia, kita sudah terbiasa mendengar tahun baru Masehi, tahun baru Hijriah, tahun baru Cina, dan tahun baru Saka. Tapi, bagi sebagian besar masyarakat kita, mungkin masih asing dengan istilah tahun baru Persia. Sebenarnya, tahun baru ini tidak hanya milik masyarakat Iran saja, penduduk negara-negara yang dulu di bawah pengaruh kekasairan Persia kuno juga bersuka cita merayakan Nowruz, seperti Afganistan, Tajikistan, Azarbeijan, Kyrgyzystan, Turkmenistan, bangsa Kurdi di sebagian wilayah Irak dan Suriah, Turki serta Pakistan. Bahkan, tradisi nowruz ini sudah terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak tanggal 23 Februari 2010. Selain itu, Nowruz juga menjadi hari raya penganut agama Bahai. Menurut peneliti Iran, Mehrdad Bahar, tradisi Nowruz sudah dirayakan tiga ribu tahun sebelum Masehi.

Lalu, sejak kapan masyarakat Persia memiliki penanggalan sendiri? Kalau dilacak secara historis, kalender Iran sudah disusun jauh sebelum datangnya Islam, bahkan pra Masehi, yaitu sejak tahun 1725 sebelum Masehi. Seiring masuknya Islam ke dataran Persia, Omar Khayam, seorang matematikawan sekaligus astronom Muslim Persia, melakukan koreksi penanggalan yang disesuaikan dengan kalender hijriah. Tapi kalender Iran tetap mengikuti sistem kalender surya. Sekarang Iran memasuki Tahun 1394 setara dengan 1436 Hijriah. Begitu juga, nama bulan dalam kalender Iran tetap mempertahankan nama Persia kuno, seperti: Farvardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad, Shahrivar, Mehr, Aban, Azar, Day, Bahman, dan Esfand.

Tradisi Nowruz

Sebelum orang-orang Iran duduk manis menyambut tahun baru, ada serangkaian tradisi panjang yang mereka lewati. Dua minggu menjelang Nowruz, masyarakat Iran sudah sibuk bercerita kegiatan mereka melakukan Khaneh Tekani. Secara leksikal, Khaneh Tekani adalah menggoyang rumah. Tapi maksud sebenarnya Khaneh Tekani adalah simbol membersihkan kotoran lahir dan batin dari rumah dan penghuninya untuk menyambut musim semi. Biasanya orang Iran menata ulang dekorasi rumah, dari sekedar mengganti warna cat, memindahkan posisi mebel, sampai mengganti barang-barang yang sudah tidak layak. Mereka ingin suasana rumah baru di tahun yang baru.

Hari-hari berikutnya mereka akan sibuk memilih berbagai hadiah untuk kerabat dan teman, membeli baju-baju baru, dan menyiapkan berbagai keperluan mudik. Di akhir penutupan tahun, sebagian besar orang Iran berziarah ke makam-makam kerabat maupun ulama. Mereka berharap dengan mengenang orang-orang salih (kalau di Indonesia mungkin para wali) akan mendapat keberkahan di tahun yang akan datang. Di sini, saya melihat banyak kesamaan dengan tradisi lebaran di Indonesia. Tapi, ada tradisi unik yang hanya terdapat dalam nowruz, yaitu haft sin.

Haft, dalam bahasa Persia berarti angka 7 yang dipercaya memiliki makna tersendiri. Sin, adalah salah satu huruf Persia dan Arab. Maksud haft sin, tujuh jenis makanan berawalan sin yang wajib ada dalam setiap perayaan tahun baru. Haft sin sendiri melambangkan filosofi nowruz. Ketujuh makanan tersebut antara lain: Sabze (tunas gandum), melambangkan kelahiran kembali dan kesuburan; Samanu (semacam dodol dari gandum), sebagai simbol kemakmuran; Sib (apel), menandakan kesegaran dan kecantikan; Sir (bawang putih), melambangkan kesehatan dan kedamaian; Serkeh (cuka), menandakan kelestarian, karena cuka mengawetkan makanan; Somagh (sejenis bumbu dapur dan obat), melambangkan kemenangan atas pengaruh jahat; Senjed (buah pohon lotus), sebagai simbol cinta dan perlindungan.

Selain tujuh jenis makanan itu, ada ornamen lainnya seperti ikan dan telur yang dihias sebagai simbol produktivitas dan kreativitas. Ada juga cermin dan lilin, yang melambangkan refleksi masa depan dan cahaya penerang. Satu lagi benda yang wajib ada adalah Quran sebagai lambang kesucian.

Pengalaman saya berkunjung ke acara tahun baru di Iran, biasanya satu atau dua jam menjelang pergantian tahun, mereka berkumpul mengelilingi meja. Setiap keluarga melakukan aktivitas yang beragam. Ada yang mengaji Quran, ada yang bergantian membaca puisi Hafez, ada juga yang hanya sekedar berbincang hangat. Tapi, semua mengakhiri kegiatan mereka dengan merapalkan doa-doa untuk kemudahan di tahun berikutnya. Sebenarnya yang menarik bagi saya, bukan seberapa unik acara nowruz, tapi bagaimana sisi budaya dan nilai agama bisa bertemu dan saling mengisi. Barangkali, inilah yang disebut Gus Dur sebagai upaya “kulturalisasi” agama.  

Di Tanah Air tercinta, kita juga memiliki berbagai perayaan yang terinspirasi dari ajaran agama dan tradisi lokal seperti grebek maulid Nabi, syawalan, syukuran 7 bulan kehamilan, akikah, dan banyak lagi. Sayangnya, sebagian tradisi ada yang mulai jarang kita temui seperti peringatan bubur merah dan putih pada hari Asyura. Bukan hal yang mustahil, bila tidak dijaga dengan baik, kelak tradisi itu hanya akan menjadi cerita anak cucu kita. Sementara, beragama dengan mengabaikan tradisi, akan terasa kering.

Tampaknya, lestarinya tradisi Nowruz hingga kini sebagai bentuk dari “Pribumisasi Islam” di tanah Persia. Sebagaimana ditegaskan Gus Dur dalam “Islamku, Islam Anda dan Islam Kita”(2006:xvii), kejayaan Islam justru terletak pada kemampuan agama ini berkembang secara kultural.