RMOL. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dinilai telah
memanipulasi dan melakukan pembohongan sejarah dengan mengatakan Laskar
Po An Tui sebagai laskar pro republik dan berjuang bersama bangsa
Indonesia melawan penjajah Belanda.
Penilaian tersebut disampaikan Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian Simanjuntak kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Senin (22/2). Justru, sebut Bastian, Laskar Po An Tui musuh para pejuang revolusi dalam merebut kemerdekaan.
"Laskar
Po An Tui bukan pejuang kemerdekaan republik. Laskar Po An Tui
bekerjasama dengan Belanda, Inggris, dan asosiasi bangsa Cina di luar
negeri seperti Hua Ch'iao Cung Hui, Kuomintang (partai nasionalis Cina)
melawan para pejuang revolusi RI pasca proklamasi kemerdekaan,"
katanya.
Bastian mengungkapkan hal itu bisa dilihat dari sejarah
Laskar Po An Tui. Pada tanggal 13 Desember 1945, media bangsa Cina
mempublikasikan pembukaan perekrutan organisasi pertahanan bangsa Cina.
Setelah direkrut tantama sebanyak 300 pemuda, Laskar Po An Tui ketika
itu melakukan upaya kolektif untuk melepaskan bangsa Cina dari
kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Inisiatif gerakan ini diambil
oleh Hua Ch'iao Chung Hui.
Kemudian, perwakilan federasi
komunitas Cina mengadakan pertemuan umum pertama pada tanggal 9 Desember
1945, dimana delegasi secara kolektif mengumumkan solusi keamanan bagi
mereka. Manifesto yang dihasilkan dalam pertemuan pertama memperjelas
ambisi Hua Ch'iao Chung Hui yang bertujuan untuk menaikkan perwakilan
komunitas bangsa Cina secara keseluruhan. Hal ini bisa dilihat dari
daftar anggota komite terpilih dengan total 48 organisasi sebagai
perwakilan dalam aosiasi bangsa Cina tersebut, termasuk kalangan
professional, budayawan, pendidikan dan yayasan.
"Di Medan di
mana populasi warga keturunan Cina cukup besar, Laksar Po An Tui dikenal
sangat kejam dan mereka bekerja sama dengan Belanda. Po An Tui telah
berada di Medan sejak Desember 1946, sebelum akhirnya Belanda kembali ke
Medan untuk menyusun kembali pemerintahannya dan mengambil alih komando
militer dari angkatan bersenjata Inggris," katanya.
Orang-orang
Cina di Medan, masih kata Bastian, membentuk Laskar Po An Tui atas
inisiatif sendiri. Dalam perjalanannya, Laskar Po An Tui bersekutu
dengan militer Belanda di bawah komando Belanda. Pada waktu Belanda
kembali pada tahun 1946, Po An Tui sudah membangun kekuatan organisasi
militer dengan kecakapan yang luar biasa untuk melawan para pejuang
kemerdekaan Indonesia.
Dikarenakan pasukan Laskar Po An Tui
sangat efektif dalam memproteksi komunitas masyarakat Cina, pasukan
bersenjata Belanda memberikan pangkat tamtama kepada pasukan Po An Tui.
Belanda juga mempersenjatai mereka dengan tujuan membantu tentara
Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) mempertahankan Medan dari
perlawanan para pejuang republik.
Menjadi pertanyaan, katanya,
kenapa Mendagri Tjahjo Kumolo saat meresmikan monumen Po AN Tui di Taman
Mini Indonesia Indah pada Sabtu (20/2) kemarin, menggambarkan Laskar Po
An Tui sebagai laskar Bangsa Cina yang bersama-sama dengan bangsa
Indonesia melawan penjajah Belanda pada tahun 1740-1743. Dia menduga
Tjahjo Kumolo tidak jujur dan memiliki kepentingan tersembunyi.
"Mendagri
Tjahjo Kumolo harus jujur menjelaskan apa sebenarnya tujuan pembangunan
monumen tersebut? Jangan-jangan ia sengaja ingin membangkitkan kembali
semangat kebangsaan Cina di Indonesia," tukasnya.
[dem]